Rumah Pertama

Wow… seminggu telah berlalu sejak postingan pertama. Buat warning aja, saya tahu hidup saya tidak terlalu menarik tetapi kalau kalian emang lagi kurang kerjaan, saya persilahkan kalian untuk meneruskan membaca. Karena di postingan perkenalan saya tidak membahas tentang orang tua, saya akan membahas tentang orang tua. Sebetulnya apa sih orang tua? Apakah mereka harus selalu tua? Apakah mereka harus berhubungan darah dengan kita? Apa cuma merek produsen makanan yang ada di Indonesia? Ayo kita cek lebih dalam.

Menurut Wikipedia, orang tua adalah ayah dan/atau ibu seorang anak, baik melalui hubungan biologis maupun sosial. Kebetulan, puji syukur kepada Allah, saya punya orang tua dengan hubungan biologis yang masih sehat. Saya tidak akan menyebutkan nama mereka takut melanggar privasi orang lain (dan takut entar terkenal). Yang jelas, satu wanita dan satu pria orang tua saya. Bapak saya (ya saya panggil ayah saya bapak) dan ibu saya dua-duanya orang Jawa, lebih tepatnya Yogyakarta di daerah Kotagede. Bukan teman masa kecil, bukan highschool sweethearts, bukan teman kuliah, bukan juga teman kerja. Hal seperti ini yang membuat saya bingung, terus ketemu dimana!?!? Jadi, usut punya usut, ternyata mereka tinggal di satu lingkungan (lingkungan gereja) yang sama. Saling kenal namun tidak dekat. Dan fakta selanjutnya yang membuat saya heran. Orang tua saya mulai pdkt (tukar menukar nomor pada zaman itu) saat sedang melayat orang meninggal. Hati kecil saya berkata, “Gak ada tempat yang lebih aneh lagi apa. Kan kasihan orang yang meninggal.”

Bapak saya lulusan ITB Teknik Industri dan ibu saya lulusan UGM FKG. Apakah mereka sudah pacaran saat itu? Tidak sama sekali. Bapak saya bilang mereka mulai pacaran saat bapak saya sudah bekerja. Katanya “Biar gak malu, kan sudah punya duit.” Usia mereka berbeda 2 tahun saja, lebih tua bapak saya. Maka dari itu, saat bapak saya mulai bekerja di salah satu perusahaan BUMN yang terkenal ngurusin minyak (hayo tahu gak apa??), mereka mulai pacaran. Bapak saya bekerja di Semarang sedangkan ibu saya saat itu hampir lulus kuliah dan mau semacam KKN di Salatiga. Lumayan jauhlah untuk menjalani hubungan Semarang-Jogja apalagi handphone masih menjadi barang langka saat itu. Dan apa yang bapak saya lakukan? Setiap Sabtu Minggu dia pulang ke Jogja untuk pacaran.

Sepertinya kalau memang ada niat semua dapat terlaksanakan. Ada apa dengan generasi milenial sekarang yang lemah, begitu LDR langsung minta putus karena bakal tidak pernah bertemu (meskipun saya belum pernah merasakan, tapi kebanyakan pasangan seperti itu). Buktinya, orang-orang dulu saja, tanpa teknologi yang sudah seperti sekarang tetap bisa mempertahankan hubungannya. Tips: jalani saja dulu, banyak berdoa dan tetap percaya satu sama lain. Mungkin saya tidak bisa berkata dari pengalaman,tapi saya sering membaca novel dengan masalah serupa yang membuat emosi dan nalar saya bekerja. Trust me 🙂

Oke.. cukup intermezzonya. Kembali ke topik awal. Intinya mereka berhasil mencapai gerbang pelaminan pada tanggal 31 Desember. Ya.. saya juga bingung kenapa pas tahun baru an mungkin biar dapat dirayakan oleh banyak orang. Yang jelas pada tahun 1996 kakak saya lahir dan pada tahun 2000 saya lahir. Jujur saja, saya tidak memiliki hubungan yang dekat dengan orang tua saya. Mungkin banyak orang yang merasakan setiap kali ada masalah selalu ceritanya ke mama, tapi itu tidak saya lakukan. Gak tau kenapa ya, tapi gak enak aja. Saya selalu menceritakan masalah ke teman dekat saya. Ketika banyak orang berkata keluarga adalah rumah pertama, tapi saya merasa kasur saya adalah rumah pertama saya saat ini. Terus, yang dimaksud rumah pertama yang saya tulis di judul? Tentu saja ibu saya, karena saya hidup pertama kali dari rahim ibu saya. Kalian pasti juga gitu dong.. Sekian cerita saya, tunggu posting selanjutnya ya!! (Kalau kalian kurang kerjaan).

*P.S. Kenapa foto di awal adalah tanaman? Karena ibu saya sebagai rumah pertama merupakan pecinta tanaman.

Leave a comment